Syair Sayang
Akankah bisa terjadi.
Diriku dalam benakmu.
Cinta dalam hatimu.
Antara bunga-bunga mawar.
Yang terpajang ditaman hatiku.
Dari sukma sucimu.
Yang pancarkan sinar putih.
Menembus celah hati.
Lewati mimpi dari anganku.
Maret 2000
My adalah saya sendiri yang banyak Mine dalam otak saya dan berharap Mind disetiap yang saya hargai.
Sabtu, 30 Agustus 2008
Untuk mu ”terimakasih”
Terimakasih, aku telah mengenalmu
Terimakasih, kau tulus tersenyum untukku
Terimakasih, pada setiap keikhlasanmu menolongku
Terimakasih, kau berbagi nasehat untukku
Terimakasih, karena harapanku pernah ada bersamamu
Terimakasih, kau mendengarkan keluh kesahku
Terimakasih, atas setiap doa dan kata semangatmu
Terimakasih, ingin kuucapkan selalu untukmu
Terimakasih, kata terakhir yang ingin kuucapkan untukmu
Terimakasih, sekali lagi untukmu terimakasih.
Agustus 2008
Terimakasih, aku telah mengenalmu
Terimakasih, kau tulus tersenyum untukku
Terimakasih, pada setiap keikhlasanmu menolongku
Terimakasih, kau berbagi nasehat untukku
Terimakasih, karena harapanku pernah ada bersamamu
Terimakasih, kau mendengarkan keluh kesahku
Terimakasih, atas setiap doa dan kata semangatmu
Terimakasih, ingin kuucapkan selalu untukmu
Terimakasih, kata terakhir yang ingin kuucapkan untukmu
Terimakasih, sekali lagi untukmu terimakasih.
Agustus 2008
Cerita di ujung Pelita
Letih aku bicara pada awan
Disetiap tangis yang ingin berhenti deras
Entah pikir inginkan
Hatiku sudah terasa getas
Tak berujung pada dunia
Aku terus berjalan dan berlari
Mencoba pikir ini dapat menggapai
Waktulah yang berhenti seketika
Entah pikir inginkan
Letih aku bicara pada awan
Hatiku sudah terasa getas
Tangisku kian menjadi deras
Mencoba pikir ini dapat menggapai
Aku terus berjalan dan berlari
Ketika berujung pada dunia
Waktuku berhenti seketika
Laraku dalam cerita
Tangisku dalam derita
Aku bercerita pada jelita
Tulisan disebuah ujung pelita.
Agusrtus 2008
Letih aku bicara pada awan
Disetiap tangis yang ingin berhenti deras
Entah pikir inginkan
Hatiku sudah terasa getas
Tak berujung pada dunia
Aku terus berjalan dan berlari
Mencoba pikir ini dapat menggapai
Waktulah yang berhenti seketika
Entah pikir inginkan
Letih aku bicara pada awan
Hatiku sudah terasa getas
Tangisku kian menjadi deras
Mencoba pikir ini dapat menggapai
Aku terus berjalan dan berlari
Ketika berujung pada dunia
Waktuku berhenti seketika
Laraku dalam cerita
Tangisku dalam derita
Aku bercerita pada jelita
Tulisan disebuah ujung pelita.
Agusrtus 2008
Sabtu, 02 Agustus 2008
Pijar Dirinya
Kutatap sebuah bintang yang masih berpijar
Aku coba renungi, kenapa aku menatapnya
Masih kutatap bintang yang masih berpijar
Aku coba cari arti, mengapa aku tak berpaling darinya
Meski sudah tak dapat terkejar
Kenapa rasa hatiku baru bergetar
Entah mengapa aku berpikir terlalu jauh padanya
Apakah aku merasa iba atau mencintainya
Aku tak berani menggapainya
Meski kepergiannya membuat hatiku gusar
Mungkin aku masih meragu padanya!
Walau aku ingin sekali menjadi tegar
Rasa ibakah atau aku telah mencintainya ?
Tapi aku tak ingin kehilangan dirinya
Semoga kebaikannya tetap terpancar
Aku serahkan semuanya kepada Yang Maha Besar
Kuucapkan selamat jalan padanya
Karena waktu tak akan berputar
Meski hatiku akan sakit mengenangnya
Semoga ia tetap terang bersinar.
Agusrtus 2008
Kutatap sebuah bintang yang masih berpijar
Aku coba renungi, kenapa aku menatapnya
Masih kutatap bintang yang masih berpijar
Aku coba cari arti, mengapa aku tak berpaling darinya
Meski sudah tak dapat terkejar
Kenapa rasa hatiku baru bergetar
Entah mengapa aku berpikir terlalu jauh padanya
Apakah aku merasa iba atau mencintainya
Aku tak berani menggapainya
Meski kepergiannya membuat hatiku gusar
Mungkin aku masih meragu padanya!
Walau aku ingin sekali menjadi tegar
Rasa ibakah atau aku telah mencintainya ?
Tapi aku tak ingin kehilangan dirinya
Semoga kebaikannya tetap terpancar
Aku serahkan semuanya kepada Yang Maha Besar
Kuucapkan selamat jalan padanya
Karena waktu tak akan berputar
Meski hatiku akan sakit mengenangnya
Semoga ia tetap terang bersinar.
Agusrtus 2008
Minggu, 27 Juli 2008
Tak Akan Menyerah
Malam tak akan kunjung menidurkan aku
Aku masih menunggu di tepi kata menyerah
Meski masih terkelip harapan ku
Kalau Pun aku harus menjadi pasrah
Kataku ” aku tak ingin berhenti disini”
Karena jika aku menyerah maka aku telah mati
Aku akan lakukan dan aku bisa lakukan
Karena jika aku takut langkahku adalah iman.
Agustus 2008
Malam tak akan kunjung menidurkan aku
Aku masih menunggu di tepi kata menyerah
Meski masih terkelip harapan ku
Kalau Pun aku harus menjadi pasrah
Kataku ” aku tak ingin berhenti disini”
Karena jika aku menyerah maka aku telah mati
Aku akan lakukan dan aku bisa lakukan
Karena jika aku takut langkahku adalah iman.
Agustus 2008
MAUKAH KAMU?
Bolehkah aku bertanya padamu?
Apakah kamu sudah punya kekasih?
Bila pun kamu tak menjawab,
Ku ingin bertanya lebih banyak lagi pada mu?
Maukah kamu menjadi kekasihku?
Maukah kamu mencintaiku?
Maukah kamu menjadi istriku?
Maukah kamu menderita dan bahagia bersamaku?
Maukah kamu aku sayangi?
Maukah kamu menyayangiku?
Maukah kamu mengandung anak-anakku?
Maukah kamu membesarkan anak -anak kita?
Maukah kamu disetiap hari dan malam aku temani?
Maukah kamu membangunkan aku setiap hari?
Maukah kamu membuatkan sarapanku?
Maukah kamu selalu mendoakanku?
Maukah kamu mati karena aku?
Maukah kamu?
Karena aku pun mau untuk mu.
aku mau! dan benar-nar mau.
karena kamu yang aku mau.
karena hanya kamu yang aku mau.
Juli 2008
HARI KAMU MENARI
Diselimut embun sejuk, dibawah mentari yang terpancar sinarnya membiaskan pelangi, diiringi burung-burung saling menari bahagia, ditepi subuh yang hampir meninggalkan bulan pucat, diriku masih mengingatmu, sepi dalam serpih, aku menanti dengan letih, kamu yang telah mati melupakan ku.
Pagi bernyanyi dalam sejuk, berpakaian embun, beriring seruling burung-burung sembari menyambut sinar kekasih menerangi hari nanti siang dan kamu menari ketika biola hati beirama dalam tubuh.
Dibalik bukit yang merimbun pohon-pohon serupa dengan kamu sedang tersenyum, berdendang suara senja, menggiring mentari masuk kedalam buaian, sembari membawa sinar kekasih, seruling burung-burung berirama merdu menutup siangmu.
Kerlap-kerlip hiasan dinding malam, mewarnai gelapnya ruang tari, disisi bulan yang tak pernah lelah menceritakan dongeng-dongeng untuk tidur mu, aku berdoa dalam gelap dan sunyi, semoga kamu tetap menari dalam tidurmu, sembari tersenyum seperti pohon-pohon yang merimbun serupa dengan kamu sedang tersenyum.
Juli 2008
Diselimut embun sejuk, dibawah mentari yang terpancar sinarnya membiaskan pelangi, diiringi burung-burung saling menari bahagia, ditepi subuh yang hampir meninggalkan bulan pucat, diriku masih mengingatmu, sepi dalam serpih, aku menanti dengan letih, kamu yang telah mati melupakan ku.
Pagi bernyanyi dalam sejuk, berpakaian embun, beriring seruling burung-burung sembari menyambut sinar kekasih menerangi hari nanti siang dan kamu menari ketika biola hati beirama dalam tubuh.
Dibalik bukit yang merimbun pohon-pohon serupa dengan kamu sedang tersenyum, berdendang suara senja, menggiring mentari masuk kedalam buaian, sembari membawa sinar kekasih, seruling burung-burung berirama merdu menutup siangmu.
Kerlap-kerlip hiasan dinding malam, mewarnai gelapnya ruang tari, disisi bulan yang tak pernah lelah menceritakan dongeng-dongeng untuk tidur mu, aku berdoa dalam gelap dan sunyi, semoga kamu tetap menari dalam tidurmu, sembari tersenyum seperti pohon-pohon yang merimbun serupa dengan kamu sedang tersenyum.
Juli 2008
Langganan:
Postingan (Atom)