Rabu, 19 November 2008

Dari Balik Teralis

Aku berdiri dalam penantian,
Mencari sepi fotomorgana,
Kan kuharap sinar terang menyinari,
Dari balik teralis ini.
Jiwaku mulai rasakan kebengisan,
Dan mataku memandang kecewa kebebasan,
Aku gundah, kuingin berontak dibawah sadar.
Dari balik teralis, kucoba berteriak!
Dan aku coba menyapa disekelilingku!
Kukatakan jiwaku telah perih!
Perih melihat angan kebebasan!
Dimanakah?
Teralis ini telah menemaniku,
Teralis ini telah mengekangku,
Kalau datang saat penantian,
Janjiku,
Aku akan robohkan teralis ini dengan tangan,
Tak peduli bahwa tanganku tak dapat mematahkan besi.
Mengertikah!
Oktober 2008
Tertepi Dari Sukmanya

Merebah sukma menatap bintang.
Terluluh besi pelindung raga.
Hatiku pun kini mengerti.
Tubuh wangi anyir terhisap darahnya.
Dalam tanah pijakannya.
Nanah beku bersatu pedih,
Menutup luka sayatan,
Hatiku yang terbuai paras.
Waktu mengurainya,
Satu demi satu syarafnya mati,
Raganya menangis dalam tawa,
Tertepi dari sukmanya,
Yang telah menjerit bisu dan tercabik.
Oktober 2008

Kamis, 11 September 2008

RENUNGI

Antara pikir dan rasa.
Dari arti yang belum terambil.
Bernafsu menguak kuasa.
Untuk abadi menjadi tampil.

Suatu malam bertabir gelap.
Apakah luas bintang bersinar?
Suatu dingin menyengat sakit.
Untuk apa angin berbisik?

Dari mentari bersilau paras.
Merduan burung menetap rasa.
Dari awan memendung keras.
Janji tetap di hampir masa.

September 2008

Sabtu, 30 Agustus 2008

Berserah Ampun

Duhai kasih duhai terlupa
Luas nyata tertampak maya
Urusan kini terlampau parah
Terjauh sayang tersekap rasa

Kehidupan maya dan hutang lama
Yang belum tersempat usai
Akan gemerlap dunia yang hampir berakhir
Segera ingin menjadi nyata

Dengan semu terpintas mata
Mengapa usai terlihat jemu
Tanah dan waktu beranikah menjawab
Sebelum hati terserang umur

Untuk MU zat yang agung
Maha Suci yang maha satu
Diserahkan hidup akhir untukmu
Berserah kaku mengharap ampun
Februari 2001
Kisah Di Fajar

Terpikir suatu kisah
Diawal sang fajar bernapas merah
Berkerah terang kutub mutiara
Saat menapaki jalannya lara
Kehangatannya menyerang luas
Melumpuhkan sepi yang ganas
Meramaikan sorak mencari berkah
Melawan awan agar tercerai
Supaya dapat melepas hangatnya
Hingga barat tertumpah merah
Menutup terangnya berganti damai.
Juni 2007
Menatap Bungaku Tinggal Sebuah Puing

Teraih tak mampu karena jurang
Disempatkan tapi tangan tak panjang
Tertatap bungaku yang melambai senang
Biarlah, bungaku tetap bersarang

Berangku yang terlalu menyerang
Sebab tak mampu sudah terpampang
Takutlah pikir menjadi terbayang
Memuncak hati diam terkekang

Sulit bungaku tak tumbuh di ladang
Tak mampu tergenggam karena karang
Tertunduk nafsu tak mampu senang
Bertebar duri terlalu meradang

Diam-diamlah disepi jarang
Menahan sayat tidak kepayang
Memimpi bungaku biar tersayang
Diam, diamlah berlalu tenang.
Juni 2001
Untuk Sebuah Kesan

Diatas bola aku berdiri
Memandang jauh tanah sendiri
Menanti sinar buah kejora
Menanti angin meniup jera
Lewati dan akhiri jalan
Untuk mencari sebuah kesan
Sedih ramai yang meraja
Namun pikiran belum membaja
Juni 2001